Kamis, 17 Maret 2016

sayap kecil


Mata yang enggan terlelap pastilah ada sebab, tubuh yang sedari tadi merindukan perehatannya masih saja terkapar tanpa menghiraukan hangatnya hembusan angin malam yang semakin tajam menusuk kulit hingga ke tulang. Dentang jarum jam tak juga memberikan kepastian, justru menggerus pendengaranku yang semakin mencengkram. Jika saja aku bisa menjadi putri yang tertidur, maka tak mengapa bila tiada seorang pun lelaki yang bisa membangunkanku.

0 komentar:

Posting Komentar

 

Blog Template by YummyLolly.com