Rabu, 09 Maret 2016

CERPEN AYA


PERJALANAN SEABAD MENGUNGKAP TANYA
Karya Hayatun Nufus

Warna Senja seperti jingga bercampur gelap keabu-abuan mulai memaparkan cahayanya. Membalut dunia dengan warna khas senja, pertanda mentari akan terganti oleh rembulan malam yang syahdu. Dentang jarum jam mengarah ke angka empat. Aku beranjak untuk bergegas menempuh perjalanan menuju kampung halaman. Tidak perlu memakan waktu lama, hanya sekitar tiga jam. Jarak dari kos ke kampung halaman tidak terlalu jauh. Aku merayap pelan di jalanan, agar kedua lelaki itu dapat mengejar. Sebelumnya aku sudah mengikat janji di kampus untuk bersama-sama pulang ke kampung halaman, karena tujuan kita sama tapi desanya berbeda.

Tiba-tiba dadaku berdegup kencang. Degup jantungku seakan berlari kencang. Kurasakan aliran darah di punggungku mendesir-desir, menghangatkan punggungku, dan mendinginkan tengkukku. Hampir setengah perjalanan sudah kami lalui. Seketika aku bersua dengan sebuah rasa, sepertinya hujan akan turun. Entah di mana tempatnya, aku tidak dapat menerka. Aku sadar musim hujan sudah tiba. Hangatnya udara panas yang selama ini menyelimuti setiap jiwa, beralih dengan rasa dingin yang siap menancap hingga ke tulang.  Kecerobohan sekali lagi menandakan, bahwa aku belum berubah. Padahal mantel hujan sudah aku letakkan di meja, karena terjepit waktu, aku lupa memasukannya ke dalam tas.

Gelisah dengan segala kemungkinan yang bisa saja terjadi, aku dengan gerak spontan membawa motor melaju cepat, tanpa menghiraukan kedua lelaki itu. Aku resah dan gelisah. Beberapa pasang  mata yang bertebaran di tepi jalan menatapku yang melaju kencang. Perlahan, kukurangi kecepatan. Aku tahu mereka tidak terpaku padaku, melainkan pada motor bututku. Suaranya keras bak air mendidih. Mengalunkan bunyi gelembung-gelembung kecil yang jenaka. Serentak mereka mengibarkan tawa. Namun, itu bukan hal penting. Aku mempunyai alasan sendiri mengapa motor butut ini tetap kupertahankan. Tidak ada yang tahu alasannya selain aku dan Tuhan. Sepercik senyuman aku lontarkan. Aku mengendarai motor dengan kecepatan yang standar sambil bersenandung lirih,

Setiap kumenatap dirimu
Kurasakan gejolak di jiwa ini
Ada getaran-getaran yang menyengat dalam dada
Kau punya segala yang aku impikan
Sajak-sajak tentang bayangmu
Telah meracuni pikiran ku

Wajahnya...gumamku pada hati. Wajahnya telah menghanguskan cekikian tawa yang mengolokku, membuat aku tidak perduli akan hal itu. Aku hanya perduli dengan rasa yang telah merasuk dalam sukma. Rasa yang telah membawaku pada kemurnian hati. Tiba-tiba saja motorku kempis. Sorot mataku menatap ke tepi jalan. Tapi sayang, jalanan itu bersih tidak ada satu pun rumah. Hanya ada sawah dan pohon-pohon kecil yang menghiasi hamparan di tepi jalan. Terpaksa motor ini harus kugotong sendiri. Beratnya lumayan, tidak sebanding dengan berat tubuhku. Aku sudah tercekik oleh rasa panik, untunglah kedua lelaki itu berhasil mengejar.

Kedua lelaki itu berhenti tepat di depanku berdiri. Bibirnya seumpama batu rubi. Kemilau matanya cemerlang melebihi intan permata. Gerak-geriknya selalu mendebarkan jantung dan memporak-porandakan perasaanku. Aku menyebutnya teman hidup, tapi tidak pernah hidup satu atap atau pun bersama selama 24 jam, bahkan aku tidak meminta izin dahulu untuk menggunakan majas itu. Inikah cinta yang telah menguasai hatiku? sangat lucu bukan persepsiku ini. Bertahun-tahun dia mengetahui gejolak di jiwa ini, namun bibirnya bungkam, tak ada kepastian yang membalas pernyataan cintaku. Adakah engkau mendengar bahasa hatiku ini? Adakah engkau merasakan hal yang sama dengan apa yang aku rasakan saat ini? adakah engkau menginginkan hal yang sama dengan apa yang aku inginkan saat ini? Bagaimana aku bisa mendengarmu? Mengetahui rahasia hatimu? Mengerti perasaanmu? Melalui siapa bahasa cinta ini akan kusampaikan padamu? Dan, melalui siapa engkau akan menyatakan perasaan yang sama kepadaku? Pertanyaan-pertanyaan ini selalu mengisi lorong-lorong pikiranku.

Aku teringat perkataan ibu. “Akar cinta adalah keindahan, sedang batangnya adalah kerinduan. Bila cinta telah merasuk dalam sukma, maka jiwa akan rindu kepada asalnya. Dan, asal cinta adalah Tuhan Yang Maha Perkasa. Tuhan Yang Maha Bijaksana. Tuhan yang telah membentangkan jejaring takdir, dan memasukan semua makhluk dalam jejaring-Nya. Ketika Kun Dia firmankan, fayakun akan tercipta.” Kalimat itu selalu terngiang di benakku. Lelaki satunya berbadan tinggi dan tegap, badan berisi, dengan kulit kecoklatan, ia sahabat dari lelaki yang aku sebut sebagai teman hidup.

Lelaki yang telah melemaskan tubuh dan melunglaikan sendi-sendiku, tidak membiarkan aku menggotong motor yang tidak sebanding dengan tenagaku. Dia menggantikanku menggotong motor,  dan aku berada tepat  di belakangnya. Sesungguhnya, aku ingin sekali berada di sampingnya, dan menggenggam tangan yang begitu terampil ketika meracik bumbu-bumbu dapur untuk menjadi hidangan yang lezat. Teringat waktu pertama kali tangan itu membuat makanan yang nikmat untukku, cumi asam manis. Bukan hanya pandai mencuri hati, tetapi juga pandai memasak. Bayangan ini mengacaukan pikiranku, hingga tidak sadarkan diri kalau langkahku semakin ke tengah. Segera aku menepi. Takut tubuh ini diterkam kendaraan bermotor, dan truk-truk yang melintas kencang di jalan.

            keindahan langit-langit senja dengan sinar mentari kuning kemerahan yang tertutup awan di atas sana telah kusaksikan. Kepakan sayap-sayap bangau yang sering melintas dari utara ke selatan, membumbung tinggi melewati pegunungan, dan hilang entah ke mana? Tiba-tiba motorku oleng ke kiri dan ke kanan. Ternyata kempis lagi, setelah beberapa kilometer jauhnya dari rumah tukang tambal ban. Dugaanku benar, pastilah tidak akan bertahan lama. Nampak jelas terbaca dari raut muka tukang tambal itu menyiratkan keterpaksaan. Azan mulai berkumandang, barangkali itulah sebabnya beliau bergegas. Cahaya rembulan dengan sempurna menggantikan warna-warni senja. Aku dan dua lelaki hampir putus asa karena tidak ada satu pun bengkel yang kami dapati. Teman hidupku, Rifki. Meminta sahabatnya pulang lebih dulu, karena perjalanannya masih sangat jauh daripada aku. Sudah terlalu jauh menggotong motor, tetes demi tetes peluh mulai bercucuran. Rifki bersuara mengejutkanku dari kemurungan.

            “Hei, coba lihat benda-benda langit seakan-akan riuh bertasbih. Bintang-gemintang, bulan, dan awan putih yang berarak menyaksikan kita.” Rifki menatap ke atas.
            “Bukan awan putih, tapi awan hitam Rifki!” mataku melotot.
            “Awan putih Zahra, awan putih. Seputih susu kedelai, hmmmm... nikmatnya.” Rifki meneguk air liurnya.
            “kamu sudah melantur bicaranya. Aku tahu kamu pasti laparkan?” aku menatap ke arah Rifki.
            “Hahaha, nah itu suara perut siapa?” Rifki balas menatapku dengan lekat bersama senyum simpulnya yang mampu meluluhkan hati.
            Jiwaku seakan-akan melayang-layang. Melayang tinggi. Tinggi terbang, dan tak ingin kembali. Dia tersenyum. Tersenyum padaku? Wahai hatiku…

Aku tidak bisa menepis perkataannya. Perjalanan masih berjam-jam lagi, sedangkan perut sudah memulai atraksi bunyi-bunyi yang mengusik.  Aku buka isi tas dan di dalamnya terdapat dua bungkus roti. Satu isi coklat dan satunya lagi coklat –keju. Satu buatku, satunya lagi buat Rifki. Melintaslah dua orang nampak  pasangan suami istri. Kebetulan motor mereka juga kempis. Ibu menggendong anaknya yang masih kecil dan suami ibu itu menggotong laju motornya. Anak itu merengek seperti kelaparan. Entah sudah berapa jauh jarak yang mereka tempuh, atau seberapa dekat lagi tempat yang hendak mereka tuju. aku tidak perduli. Dengan cepat kuberikan roti yang hendak aku makan kepada anak kecil itu. Akhirnya dia berhenti merengek dan dengan lahapnya menyambar roti yang kuberikan. Rifki, teman hidupku tidak diam saja dengan roti di tangannya. Dia memberikan rotinya itu kepadaku. Padahal aku tahu dia belum ada sarapan sejak tadi pagi.

Seorang bapak-bapak mencoba menghentikan kami. Bapak itu ternyata seorang tukang tambal ban yang baru selesai salat di musala. Macam-macam saja kejadian yang aku alami. Sebelumnya tukang tambal ban yang terpaksa, sekarang tukang tambal ban yang memaksa dan tidak mau dibayar. Ada-ada saja. Selimut malam semakin erat memeluk langit. Orang-orang mulai terjaga dalam tidurnya, sedang kami berdua masih bertarung menempuh perjalanan. Rifki memutuskan untuk mengantarkanku pulang ke rumah. Takkan dia biarkan aku pulang sendirian di malam yang penuh kegelapan dan marabahaya ini, yang membuat tekatnya semakin kuat. 

Perjalanan kami lanjutkan. Tiba-tiba, darahku berdesir-desir. Dadaku berdebar-debar. Mataku menabrak pemandangan yang mengguncangkan hatiku. Sebuah kecelakaan terjadi. Rifki terhenti, karena ada beberapa orang berkelahi. Mungkin terjadi perdebatan antara yang di tabrak dengan yang menabrak, atau mungkin sama-sama saling menabrak, sehingga saling menghakimi  siapa yang benar dan siapa yang salah. Dunia ini memang  penuh dengan ketidakpastian. Setiap orang merasa paling benar terhadap sesuatu yang dirasakan, dan tidak ada satu pun orang yang bisa menghakimi atas perasaan orang lain.

Mobil angkutan yang berada di belakang berteriak . Aku dan Rifki tersentak kaget. Hampir saja kami berdua terjatuh dan untung Rifki masih bisa mengendalikan motornya. Aku menelan ludah dan menghembuskan napas. Jantungku serasa mau copot. Teman hidupku yaitu Rifki begitu cemas dengan keadaanku, dia takut kalau aku terluka. Rifki mulai berjalan perlahan menghentikan pandangan agar tidak mengulur waktu. Berjalan lambat seperti merayap membuat aku seolah mengamati dunia dalam mikroskop. Memungkinkanku menangkap dengan detail jalanan yang berlubang, trotoar yang hancur, dan orang-orang yang bersesak memepet jalan aspal untuk saling berdahuluan.

Langit malam sepertinya memang tidak berpihak pada kami. Kilat yang menyala-nyala di langit, dilengkapi oleh bunyi gemuruh angin di udara. Seketika terdengar riuh gemercik hujan turun membasahi bumi. Tetes demi tetes airnya berlinang di tubuh setiap insan tanpa perisai, bercucuran dari langit bercampur dengan airmata yang membasahi wajahku. Dingin menusuk tulang telah membekukan sebagian tubuh. Aku dan Rifki tidak punya mantel hujan. Rifki berjalan melawan derasnya hujan, dia membelikan sebuah mantel untuk digunakan. Aku menunggu di tepi sebuah toko tanpa penghuni. Ternyata hanya ada satu mantel. Lagi-lagi Rifki membiarkan aku yang memakainya. Padahal dia lebih membutuhkannya. Aku sempat menolak, tetapi dia tetap memaksa. Dengan cepat aku memakai mantel itu. Wajahku seketika hilang dalam tutup kepala yang hendak aku  gunakan. Teman hidupku, Rifki. Tertawa cekikikan menatap tingkah lakuku yang seperti anak kecil, dia bilang aku sangat lucu.

“Kesedihan adalah obat bagi hati yang merindui kebenaran Zahra. Silahkan kamu menangis, tapi bukan karena putus asa. Tetapi aku sangat mengharapkan senyuman. Senyuman yang biasanya kamu berikan padaku. Senyuman itu seperti vitamin yang memberikan aku kekuatan.” Rifki mengusap airmata yang bercucuran di wajahku.
            “Baiklah aku akan tersenyum, tapi sedikit saja yah?” Aku tersenyum atas hiburan yang di lontarkan Rifki kepadaku.
            “Wahhh senyumanmu Zahra. Meski sedikit, tetapi mampu membangkitkan hati yang lama terpenjara dalam lingkaran keterpurukan.”Rifki tersenyum seraya menatap lekat wajahku.
            “Kamu ini memang pandai berakata-kata. Tubuhku menggigil, tanganku juga kaku. Apakah kita bisa melanjutkan perjalanan ini Rifki? Atau lebih baik kita menginap saja.”
            “Tidak Zahra. Perjalanan akan terus kita lanjutkan. Kamu tau bahwa orangtua kita pasti cemas dan khawatir, mereka pasti menunggu-nunggu kedatangan kita.”
            “tetapi perjalanan ini sangat berbahaya untuk kita lanjutkan. Kamu tahu jalanan menuju ke rumahku begitu sepi. Sering sekali orang di bacok dan di bawa kabur motornya. Bahkan ada yang di perkosa dan dicincang-cincang tubuhnya menjadi beberapa bagian. Hujannya juga sangat deras dan lampu di jalanan padam, tambah lagi aspal yang penuh lubang. Ayolah, sebaiknya kita cari tempat untuk menginap saja?”
            “Aku bilang tidak Zahra, kamu tidak usah cemas. Tuhan akan selalu bersama hamba-hamba-Nya yang taat, yang senantiasa melantunkan doa-doa kepada-Nya.
           
            Sumpah atas nama Pencipta langit dan bumi, rasa-rasanya aku tak kuat melangkahkan kaki. Rasa-rasanya lidahku kelu, dan kata-kata lenyap dari bibirku. Bibirku bergetar. Dadaku berdebar. Jantungku berdegup kencang. Kencang sekali. Angin ribut telah mengguncangkan jiwaku. Gemetar tubuh ini ketika mendengar ucapannya. Aku melihat cahaya tuhan memancar di hatinya. Dia memang lelaki yang begitu kuat keyakinannya, dan begitu kukuh pendiriannya. Hampir saja membenturkanku dengan dia dalam pergumulan dua prinsip yang berbeda. Kemampuannya bicara atas nama Tuhan adalah bagaimana menjadi santun dan perduli terhadap sesama, lembut di hadapan Tuhan, dan teguh dalam memegang prinsip dalam melewati duri-duri kehidupan untuk meraih kebahagian yang hakiki.

Aku dan teman hidupku, Rifki. Mengangkat kedua tangan, memandang ke langit, serta memanjatkan doa kepada Tuhan., “Ya Illahi wa Rabbi, ampunan-Mu selalu kami harapkan. Cinta-Mu selalu kami dambakan. Kami niatkan perjalanan kami malam ini semata-mata karena-Mu, dan jauhkan kami dari kejahatan-kejahatan malam yang kelam. Amiinnn.” Wajahku yang tadinya pucat-pasi, tubuh yang lemah-lunglai, dan hampir goyah. Kini ada binar-binar kebahagiaan terpancar dari wajahku malam ini. Untuk beberapa saat, kami tenggelam dalam cinta dan kerinduan kepada Tuhan. Aku bergumam pada hati,

Mendung yang menggantung di wajah ini
Menumpahkan air mata yang tak dapat di bendung
Rasa takut menancap pada sanubari
Hingga kugerimiskan doa pada-Mu Sang Illahi

            Kunang-kunang beterbangan dengan rendah seakan-akan menemani rombongan kecil ini. Adakah burung-burung kecil akan terbang bersamaku dan teman hidup malam ini, untuk menemani perjalananku ke rumah bersua dengan dia yang bernama Rifki? Hatiku diamuk gelisah, bahkan ketika aku diam pun juga tidak sanggup menyembunyikan kegelisahan hati ini di hadapannya. Dia dapat membaca tanda-tanda kegelisahan yang tidak bisa aku sembunyikan darinya. Kami pun melangkah kembali. Lantunaan ayat-ayat suci dan doa selalu aku senandungkan. Aku dan teman hidupku, Rifki. Terus melaju dan melaju. Kemarin-kemarin, jalan ini tidak asing bagiku. Tetapi malam ini, seakan-akan aku sedang menayusuri jalan yang tak kukenal. Keadaan jalan begitu sepi. Hanya satu dua mobil yang melintas. Kami terus berjalan dan berjalan, melintas di depan rumah-rumah warga yang kusam dibasahi air hujan.

            Derasnya hujan terasa lengkap dengan keadaan gelap-gulita karena listrik padam. Suara petir yang menyala-nyala siap menyambar siapa saja. Penuh sepasang mata merah yang bertebaran di tepi-tepi jalan menatap kejam padaku dan teman hidupku, Rifki. Ada yang berdiri, terjatuh dan berdiri lagi, ada yang bersandar pada tiang-tiang listrik, dan ada yang duduk berjejer bagai pasukan semut yang siap menghadang. Begitu banyak bahaya yang mengintai. Rasa takut dan bayang-bayang di benakku semakin jauh dan semakin kuat. Bait-bait doa selalu aku panjatkan. Teman hidup membawaku melaju kencang. Sekali dua kali, kami berpapasan dengan makhluk  yang seperti hendak membuntuti.

Awan gelap berserak di petala langit. Kelip-kelip bintang yang redup menemani rembulan tanpa sinarnya. Selimut malam semakin erat memeluk bumi. Membawa dingin angin yang berhembus, menyemangati lampu-lampu di jalan yang padam. Dan, kutemukan diriku bersama Rifki terus berjalan di tengah keheningan, menuju ke rumah. Seakan-akan sepi menggulung malam. Rasanya ini adalah pemandangan paling aneh dan mengerikan yang pernah terjadi. Sedangkan jarum jam telah bergeser ke angka duabelas. Rifki mempercepat jalannya, berlomba dengan jarum jam agar segera tiba di rumah. Hatiku bersenandung lirih,

            Andai jarum jam bisa berhenti
Waktu bergantung pada putarannya
Kan kuhentikan jarum jam itu
Dan kan kupilih waktu lain
Untuk pergi tanpa menerima rintangan ini

Betapa pedih wajahnya, ketika tetesan hujan berjatuhan. Tetapi, Rifki selalu mencemaskanku dan tidak memperdulikan wajahnya, serta dingin yang memeluk erat tubuhnya.
“Yang kuat ya Zahra, sebentar lagi kita akan sampai. Perjalanan ini memang melelahkan. Tetapi yakinlah, kalau kita tetap kuat dan sabar semua akan menjadi indah”.

Tanganku terasa hangat ketika berada di genggamannya. Aku merasakan percikan kebahagiaan tersembur dari tiap tetes-tetes hujan dan juga kalimat yang di lontarkannya dengan indah. Menjadi sebuah semangat bagiku. Memang benar, mungkin semua orang pernah mengalami ini, ada keluhan yang dengan sempurna menghiasi setiap celah ketidak sabaran yang mengarah pada kebinasaan. Tetapi, aku dan Rifki saling menguatkan dan tidak memberikan kesempatan untuk keluhan di setiap celahnya. Aku menjadi lupa dengan rasa takut akan kegelapan. Bahkan yang tadinya aku penakut dengan gelap kini menjadi menikmati dengan nuansa keheningan.

Rifki memintaku untuk menutup mata, agar rasa takutku berkurang. Setelah aku membuka mata, ternyata sudah berada di depan rumah. Motor butut ini adalah bukti kedua orangtuaku yang bekerja keras untuk bisa menguliahkanku. Orangtuaku menyambut dengan hangat. Adikku berteriak gembira. Betapa cemasnya mereka menungguku. Sungguh tidak dapat aku bayangkan bagaimana rasa itu menyelimuti hati kedua orangtuaku dan juga adikku? Begitu pula yang di rasakan keluarga Rifki. Sehingga dia memutuskan untuk pulang kerumahnya dan menolak tawaran orangtuaku untuk menginap. Kegelisahan dengan cepat merajam-rajam jiwaku. Aku tak bisa apa-apa. Aku hanya diam. Cahaya kebahagiaan yang tadi terpancar kini tampak meredup. Bagaimana mungkin dia kembali untuk menempuh perjalanan, aku bisa rasakan betapa menyengatnya bau bahaya yang akan terjadi. Tetapi dia tetap memaksa untuk pulang.

Kini senyum simpul dan kerling matanya yang dapat mengguncangkan hati setiap mata-mata yang memandangnya, telah memberikan efek kekecewaan padaku. Dia dapat membaca raut kekecawaan yang telah ditaburkannya lewat tatap mataku yang seakan-akan berbicara untuk meminta jangan pergi. Jarum jam sudah mengarah ke angka satu. Tidak ada juga kabar darinya. Telponnya pun mati. Tiba-tiba hatiku berdebar kencang. Kegelisahanku sudah sampai ke ubun-ubun. Tiba-tiba, dering telpon mengejutkanku.

            “ Zahra. Aku sudah sampai di rumah. Bagaimana keadaanmu? Kamu harus segera mengisi perutmu dan menghangatkan tubuhmu. Jangan sampai kamu sakit.” Rifki menelpon, suaranya begitu mencemaskanku.
            “kamu ini Rifki! Masih saja mencemaskanku. Tidak perdulikah kamu dengan dirimu sendiri? Sejak tadi kamu hanya mencemaskan aku. Mulai sekarang jangan pernah mencemaskan aku lagi! Aku tidak ingin terus bersama dengan perasaan yang tak pasti ini.” Belum sempat dia bicara, telponnya sudah kumatikan.
           
Hingga beberapa hari, kidung kerinduan akan perjumpaan dengan dia menggema di relung-relung hatiku. Bayangan bahwa diriku akan segera bertemu dengan lelaki yang aku impikan untuk menjadi pendamping hidup menari-nari di pelupuk mataku. Kobaran api cinta semakin menyala-nyala di dadaku. Demi angin yang berhembus pelan di pagi ini, demi mentari yang memberikan sinar hangatnya. Di pagi yang berselimut dingin, saat mana embun-embun masih menempel di dedaunan, Rifki datang ke rumah untuk mengunjungiku.

“Zahra. Bukan karena kehendakku bila membuatmu kecewa. Aku tidak bermaksut untuk mempermainkan perasaanmu. Selama ini aku mempunyai alasan, dan akan kuberitahukan hari ini alasan itu. Beberapa bulan lagi kita sarjana. Sudah lama aku menunggu waktu itu. Ketika waktu itu tiba maka akan kunyatakan perasaan cinta yang telah menggerus hatiku sehancur-hancurnya. Aku ingin cintaku suci dan terjaga, dan secara halal memilikimu. Aku ingin segera melamarmu sebagaimana rencanaku untuk hidup bersanding dan membangun surga rumah tangga bersamamu, agar rindu yang sekian lama menyergap di jiwa ini akan hilang. Dan aku juga ingin kamu tahu. Aku tidak ingin membuatmu terbuai dengan janji-janji manis, sekiranya janji itu belum terwujud dalam kenyataan. Aku tidak ingin membuatmu berharap pada janji, sebab harapan dapat memunculkan luka di hati. Betapa banyak orang berjanji tetapi tidak bisa menepati, sedangkan leher harapan telah digantungkan. Maka, kecewa menjadi buahnya. Amarah adalah bijinya. Janji melahirkan kekecewaan. Dan, janji meletupkan kemarahan. Sekiranya aku membuat janji, maka aku akan berjanji pada Tuhan, sebab Dialah satu-satunya Dzat yang tak pernah ingkar janji. Semoga engkau memahamiku.”

            “Benarkah perkataanmu ini Rifki? Kamu hampir saja membuatku takut akan perasaan yang tak terbalas. Dan aku hampir saja memutuskan untuk mengubur perasaan ini dalam-dalam.” Air mataku menetes.
            “Bukankah seharusnya kamu dapat melihat dari perbuatanku terhadapmu Zahra?

            Aku tak sanggup bekata-kata lagi. Air mataku terus belinang dan tak mampu  kubendung. Rifki mengusap-usap  pipiku. Aku begitu puas dengan penjelasan Rifki padaku. Dan aku menyadari bahwa ada makna yang tersirat, agar aku menengok waktu sebelumnya.

Ada masa di mana gelap menyelimuti
Lalu muncul mentari pagi yang membawa sinarnya
Ada saat di mana diri mengalami kesulitan
Bersama kesulitan diri akan mendapat kemudahan
Kemudahan yang nampak pada wajahnya
Wajah yang membawa cahaya Tuhan
Pada diri ini

Ini adalah perjalanan seabad yang telah aku lewati dengan penuh rintangan bersama teman hidupku. Perjalanan ini telah mengungkap pertanyaan yang bertahun-tahun bersarang di benakku. Kemampuan bicara atas nama cinta, tidak selamanya sejalan dengan tindakan membangun rel kebenaran. Cinta tidak harus diucapkan dengan kata-kata, namun dengan perbuatan, serta pengorbanan yang berwujud konkret sudah lebih dari cukup untuk memahami perasaannya.

0 komentar:

Posting Komentar

 

Blog Template by YummyLolly.com