PERJALANAN
SEABAD MENGUNGKAP TANYA
Karya
Hayatun Nufus
Warna Senja seperti
jingga bercampur gelap keabu-abuan mulai memaparkan cahayanya. Membalut dunia
dengan warna khas senja, pertanda mentari akan terganti oleh rembulan malam
yang syahdu. Dentang jarum jam mengarah ke angka empat. Aku beranjak untuk
bergegas menempuh perjalanan menuju kampung halaman. Tidak perlu memakan waktu
lama, hanya sekitar tiga jam. Jarak dari kos ke kampung halaman tidak terlalu
jauh. Aku merayap pelan di jalanan, agar kedua lelaki itu dapat mengejar.
Sebelumnya aku sudah mengikat janji di kampus untuk bersama-sama pulang ke kampung
halaman, karena tujuan kita sama tapi desanya berbeda.
Tiba-tiba dadaku
berdegup kencang. Degup jantungku seakan berlari kencang. Kurasakan aliran
darah di punggungku mendesir-desir, menghangatkan punggungku, dan mendinginkan
tengkukku. Hampir setengah perjalanan sudah kami lalui. Seketika aku bersua
dengan sebuah rasa, sepertinya hujan akan turun. Entah di mana tempatnya, aku
tidak dapat menerka. Aku sadar musim hujan sudah tiba. Hangatnya udara panas
yang selama ini menyelimuti setiap jiwa, beralih dengan rasa dingin yang siap
menancap hingga ke tulang. Kecerobohan
sekali lagi menandakan, bahwa aku belum berubah. Padahal mantel hujan sudah aku
letakkan di meja, karena terjepit waktu, aku lupa memasukannya ke dalam tas.
Gelisah dengan segala kemungkinan yang bisa saja terjadi,
aku dengan gerak spontan membawa motor melaju cepat, tanpa menghiraukan kedua
lelaki itu. Aku resah dan gelisah. Beberapa pasang mata yang bertebaran di tepi jalan menatapku
yang melaju kencang. Perlahan, kukurangi kecepatan. Aku tahu mereka tidak
terpaku padaku, melainkan pada motor bututku. Suaranya keras bak air mendidih.
Mengalunkan bunyi gelembung-gelembung kecil yang jenaka. Serentak mereka
mengibarkan tawa. Namun, itu bukan hal penting. Aku mempunyai alasan sendiri
mengapa motor butut ini tetap kupertahankan. Tidak ada yang tahu alasannya
selain aku dan Tuhan. Sepercik senyuman aku lontarkan. Aku mengendarai motor
dengan kecepatan yang standar sambil bersenandung lirih,
Setiap kumenatap dirimu
Kurasakan gejolak di jiwa ini
Ada getaran-getaran yang menyengat
dalam dada
Kau punya segala yang aku impikan
Sajak-sajak tentang bayangmu
Telah meracuni pikiran ku
Wajahnya...gumamku pada hati. Wajahnya telah menghanguskan cekikian
tawa yang mengolokku, membuat aku tidak perduli akan hal itu. Aku hanya perduli
dengan rasa yang telah merasuk dalam sukma. Rasa yang telah membawaku pada
kemurnian hati. Tiba-tiba saja motorku kempis. Sorot
mataku menatap ke tepi jalan. Tapi sayang, jalanan itu bersih tidak ada satu
pun rumah. Hanya ada sawah dan pohon-pohon kecil yang menghiasi hamparan di
tepi jalan. Terpaksa motor ini harus kugotong sendiri. Beratnya lumayan, tidak
sebanding dengan berat tubuhku. Aku sudah tercekik oleh rasa panik, untunglah
kedua lelaki itu berhasil mengejar.
Kedua lelaki itu
berhenti tepat di depanku berdiri. Bibirnya seumpama batu rubi. Kemilau matanya
cemerlang melebihi intan permata. Gerak-geriknya selalu mendebarkan jantung dan
memporak-porandakan perasaanku. Aku menyebutnya teman hidup, tapi tidak pernah
hidup satu atap atau pun bersama selama 24 jam, bahkan aku tidak meminta izin
dahulu untuk menggunakan majas itu. Inikah cinta yang telah menguasai hatiku?
sangat lucu bukan persepsiku ini. Bertahun-tahun dia mengetahui gejolak di jiwa
ini, namun bibirnya bungkam, tak ada kepastian yang membalas pernyataan
cintaku. Adakah engkau mendengar bahasa hatiku ini? Adakah engkau merasakan hal
yang sama dengan apa yang aku rasakan saat ini? adakah engkau menginginkan hal
yang sama dengan apa yang aku inginkan saat ini? Bagaimana aku bisa
mendengarmu? Mengetahui rahasia hatimu? Mengerti perasaanmu? Melalui siapa
bahasa cinta ini akan kusampaikan padamu? Dan, melalui siapa engkau akan
menyatakan perasaan yang sama kepadaku? Pertanyaan-pertanyaan ini selalu
mengisi lorong-lorong pikiranku.
Aku teringat perkataan
ibu. “Akar cinta adalah keindahan, sedang batangnya adalah kerinduan. Bila
cinta telah merasuk dalam sukma, maka jiwa akan rindu kepada asalnya. Dan, asal
cinta adalah Tuhan Yang Maha Perkasa. Tuhan Yang Maha Bijaksana. Tuhan yang
telah membentangkan jejaring takdir, dan memasukan semua makhluk dalam
jejaring-Nya. Ketika Kun Dia
firmankan, fayakun akan tercipta.” Kalimat
itu selalu terngiang di benakku. Lelaki satunya berbadan tinggi dan tegap,
badan berisi, dengan kulit kecoklatan, ia sahabat dari lelaki yang aku sebut
sebagai teman hidup.
Lelaki yang telah
melemaskan tubuh dan melunglaikan sendi-sendiku, tidak membiarkan aku
menggotong motor yang tidak sebanding dengan tenagaku. Dia menggantikanku
menggotong motor, dan aku berada
tepat di belakangnya. Sesungguhnya, aku
ingin sekali berada di sampingnya, dan menggenggam tangan yang begitu terampil
ketika meracik bumbu-bumbu dapur untuk menjadi hidangan yang lezat. Teringat
waktu pertama kali tangan itu membuat makanan yang nikmat untukku, cumi asam
manis. Bukan hanya pandai mencuri hati, tetapi juga pandai memasak. Bayangan
ini mengacaukan pikiranku, hingga tidak sadarkan diri kalau langkahku semakin
ke tengah. Segera aku menepi. Takut tubuh ini diterkam kendaraan bermotor, dan
truk-truk yang melintas kencang di jalan.
keindahan langit-langit senja dengan
sinar mentari kuning kemerahan yang tertutup awan di atas sana telah
kusaksikan. Kepakan sayap-sayap bangau yang sering melintas dari utara ke
selatan, membumbung tinggi melewati pegunungan, dan hilang entah ke mana?
Tiba-tiba motorku oleng ke kiri dan ke kanan. Ternyata kempis lagi, setelah
beberapa kilometer jauhnya dari rumah tukang tambal ban. Dugaanku benar,
pastilah tidak akan bertahan lama. Nampak jelas terbaca dari raut muka tukang
tambal itu menyiratkan keterpaksaan. Azan mulai berkumandang, barangkali itulah
sebabnya beliau bergegas. Cahaya rembulan dengan sempurna menggantikan
warna-warni senja. Aku dan dua lelaki hampir putus asa karena tidak ada satu
pun bengkel yang kami dapati. Teman hidupku, Rifki. Meminta sahabatnya pulang
lebih dulu, karena perjalanannya masih sangat jauh daripada aku. Sudah terlalu
jauh menggotong motor, tetes demi tetes peluh mulai bercucuran. Rifki bersuara
mengejutkanku dari kemurungan.
“Hei,
coba lihat benda-benda langit seakan-akan riuh bertasbih. Bintang-gemintang,
bulan, dan awan putih yang berarak menyaksikan kita.” Rifki menatap ke atas.
“Bukan
awan putih, tapi awan hitam Rifki!” mataku melotot.
“Awan
putih Zahra, awan putih. Seputih susu kedelai, hmmmm... nikmatnya.” Rifki
meneguk air liurnya.
“kamu
sudah melantur bicaranya. Aku tahu kamu pasti laparkan?” aku menatap ke arah Rifki.
“Hahaha,
nah itu suara perut siapa?” Rifki balas menatapku dengan lekat bersama senyum
simpulnya yang mampu meluluhkan hati.
Jiwaku
seakan-akan melayang-layang. Melayang tinggi. Tinggi terbang, dan tak ingin
kembali. Dia tersenyum. Tersenyum padaku? Wahai hatiku…
Aku tidak bisa menepis
perkataannya. Perjalanan masih berjam-jam lagi, sedangkan perut sudah memulai
atraksi bunyi-bunyi yang mengusik. Aku
buka isi tas dan di dalamnya terdapat dua bungkus roti. Satu isi coklat dan
satunya lagi coklat –keju. Satu buatku, satunya lagi buat Rifki. Melintaslah
dua orang nampak pasangan suami istri.
Kebetulan motor mereka juga kempis. Ibu menggendong anaknya yang masih kecil
dan suami ibu itu menggotong laju motornya. Anak itu merengek seperti
kelaparan. Entah sudah berapa jauh jarak yang mereka tempuh, atau seberapa
dekat lagi tempat yang hendak mereka tuju. aku tidak perduli. Dengan cepat kuberikan
roti yang hendak aku makan kepada anak kecil itu. Akhirnya dia berhenti
merengek dan dengan lahapnya menyambar roti yang kuberikan. Rifki, teman hidupku
tidak diam saja dengan roti di tangannya. Dia memberikan rotinya itu kepadaku.
Padahal aku tahu dia belum ada sarapan sejak tadi pagi.
Seorang bapak-bapak
mencoba menghentikan kami. Bapak itu ternyata seorang tukang tambal ban yang
baru selesai salat di musala. Macam-macam saja kejadian yang aku alami.
Sebelumnya tukang tambal ban yang terpaksa, sekarang tukang tambal ban yang
memaksa dan tidak mau dibayar. Ada-ada saja. Selimut malam semakin erat memeluk
langit. Orang-orang mulai terjaga dalam tidurnya, sedang kami berdua masih
bertarung menempuh perjalanan. Rifki memutuskan untuk mengantarkanku pulang ke
rumah. Takkan dia biarkan aku pulang sendirian di malam yang penuh kegelapan dan
marabahaya ini, yang membuat tekatnya semakin kuat.
Perjalanan kami
lanjutkan. Tiba-tiba, darahku berdesir-desir. Dadaku berdebar-debar. Mataku menabrak
pemandangan yang mengguncangkan hatiku. Sebuah kecelakaan terjadi. Rifki
terhenti, karena ada beberapa orang berkelahi. Mungkin terjadi perdebatan
antara yang di tabrak dengan yang menabrak, atau mungkin sama-sama saling
menabrak, sehingga saling menghakimi
siapa yang benar dan siapa yang salah. Dunia ini memang penuh dengan ketidakpastian. Setiap orang
merasa paling benar terhadap sesuatu yang dirasakan, dan tidak ada satu pun
orang yang bisa menghakimi atas perasaan orang lain.
Mobil angkutan yang
berada di belakang berteriak . Aku dan Rifki tersentak kaget. Hampir saja kami
berdua terjatuh dan untung Rifki masih bisa mengendalikan motornya. Aku menelan
ludah dan menghembuskan napas. Jantungku serasa mau copot. Teman hidupku yaitu Rifki
begitu cemas dengan keadaanku, dia takut kalau aku terluka. Rifki mulai
berjalan perlahan menghentikan pandangan agar tidak mengulur waktu. Berjalan
lambat seperti merayap membuat aku seolah mengamati dunia dalam mikroskop.
Memungkinkanku menangkap dengan detail jalanan yang berlubang, trotoar yang
hancur, dan orang-orang yang bersesak memepet jalan aspal untuk saling
berdahuluan.
Langit malam sepertinya
memang tidak berpihak pada kami. Kilat yang menyala-nyala di langit, dilengkapi
oleh bunyi gemuruh angin di udara. Seketika terdengar riuh gemercik hujan turun
membasahi bumi. Tetes demi tetes airnya berlinang di tubuh setiap insan tanpa
perisai, bercucuran dari langit bercampur dengan airmata yang membasahi wajahku.
Dingin menusuk tulang telah membekukan sebagian tubuh. Aku dan Rifki tidak
punya mantel hujan. Rifki berjalan melawan derasnya hujan, dia membelikan
sebuah mantel untuk digunakan. Aku menunggu di tepi sebuah toko tanpa penghuni.
Ternyata hanya ada satu mantel. Lagi-lagi Rifki membiarkan aku yang memakainya.
Padahal dia lebih membutuhkannya. Aku sempat menolak, tetapi dia tetap memaksa.
Dengan cepat aku memakai mantel itu. Wajahku seketika hilang dalam tutup kepala
yang hendak aku gunakan. Teman hidupku, Rifki.
Tertawa cekikikan menatap tingkah lakuku yang seperti anak kecil, dia bilang aku
sangat lucu.
“Kesedihan adalah obat
bagi hati yang merindui kebenaran Zahra. Silahkan kamu menangis, tapi bukan
karena putus asa. Tetapi aku sangat mengharapkan senyuman. Senyuman yang
biasanya kamu berikan padaku. Senyuman itu seperti vitamin yang memberikan aku
kekuatan.” Rifki mengusap airmata yang bercucuran di wajahku.
“Baiklah
aku akan tersenyum, tapi sedikit saja yah?” Aku tersenyum atas hiburan yang di
lontarkan Rifki kepadaku.
“Wahhh
senyumanmu Zahra. Meski sedikit, tetapi mampu membangkitkan hati yang lama
terpenjara dalam lingkaran keterpurukan.”Rifki tersenyum seraya menatap lekat
wajahku.
“Kamu
ini memang pandai berakata-kata. Tubuhku menggigil, tanganku juga kaku. Apakah
kita bisa melanjutkan perjalanan ini Rifki? Atau lebih baik kita menginap
saja.”
“Tidak Zahra. Perjalanan akan terus
kita lanjutkan. Kamu tau bahwa orangtua kita pasti cemas dan khawatir, mereka
pasti menunggu-nunggu kedatangan kita.”
“tetapi perjalanan ini sangat
berbahaya untuk kita lanjutkan. Kamu tahu jalanan menuju ke rumahku begitu
sepi. Sering sekali orang di bacok dan di bawa kabur motornya. Bahkan ada yang
di perkosa dan dicincang-cincang tubuhnya menjadi beberapa bagian. Hujannya juga
sangat deras dan lampu di jalanan padam, tambah lagi aspal yang penuh lubang.
Ayolah, sebaiknya kita cari tempat untuk menginap saja?”
“Aku bilang tidak Zahra, kamu tidak
usah cemas. Tuhan akan selalu bersama hamba-hamba-Nya yang taat, yang
senantiasa melantunkan doa-doa kepada-Nya.
Sumpah atas nama Pencipta langit dan
bumi, rasa-rasanya aku tak kuat melangkahkan kaki. Rasa-rasanya lidahku kelu,
dan kata-kata lenyap dari bibirku. Bibirku bergetar. Dadaku berdebar. Jantungku
berdegup kencang. Kencang sekali. Angin ribut telah mengguncangkan jiwaku.
Gemetar tubuh ini ketika mendengar ucapannya. Aku melihat cahaya tuhan memancar
di hatinya. Dia memang lelaki yang begitu kuat keyakinannya, dan begitu kukuh
pendiriannya. Hampir saja membenturkanku dengan dia dalam pergumulan dua
prinsip yang berbeda. Kemampuannya bicara atas nama Tuhan adalah bagaimana
menjadi santun dan perduli terhadap sesama, lembut di hadapan Tuhan, dan teguh
dalam memegang prinsip dalam melewati duri-duri kehidupan untuk meraih
kebahagian yang hakiki.
Aku dan teman hidupku, Rifki.
Mengangkat kedua tangan, memandang ke langit, serta memanjatkan doa kepada Tuhan.,
“Ya Illahi wa Rabbi, ampunan-Mu selalu kami harapkan. Cinta-Mu selalu kami
dambakan. Kami niatkan perjalanan kami malam ini semata-mata karena-Mu, dan
jauhkan kami dari kejahatan-kejahatan malam yang kelam. Amiinnn.” Wajahku yang
tadinya pucat-pasi, tubuh yang lemah-lunglai, dan hampir goyah. Kini ada
binar-binar kebahagiaan terpancar dari wajahku malam ini. Untuk beberapa saat,
kami tenggelam dalam cinta dan kerinduan kepada Tuhan. Aku bergumam pada hati,
Mendung
yang menggantung di wajah ini
Menumpahkan
air mata yang tak dapat di bendung
Rasa
takut menancap pada sanubari
Hingga kugerimiskan doa pada-Mu
Sang Illahi
Kunang-kunang
beterbangan dengan rendah seakan-akan menemani rombongan kecil ini. Adakah burung-burung
kecil akan terbang bersamaku dan teman hidup malam ini, untuk menemani
perjalananku ke rumah bersua dengan dia yang bernama Rifki? Hatiku diamuk
gelisah, bahkan ketika aku diam pun juga tidak sanggup menyembunyikan
kegelisahan hati ini di hadapannya. Dia dapat membaca tanda-tanda kegelisahan
yang tidak bisa aku sembunyikan darinya. Kami pun melangkah kembali. Lantunaan
ayat-ayat suci dan doa selalu aku senandungkan. Aku dan teman hidupku, Rifki. Terus
melaju dan melaju. Kemarin-kemarin, jalan ini tidak asing bagiku. Tetapi malam
ini, seakan-akan aku sedang menayusuri jalan yang tak kukenal. Keadaan jalan
begitu sepi. Hanya satu dua mobil yang melintas. Kami terus berjalan dan
berjalan, melintas di depan rumah-rumah warga yang kusam dibasahi air hujan.
Derasnya hujan terasa lengkap dengan
keadaan gelap-gulita karena listrik padam. Suara petir yang menyala-nyala siap
menyambar siapa saja. Penuh sepasang mata merah yang bertebaran di tepi-tepi
jalan menatap kejam padaku dan teman hidupku, Rifki. Ada yang berdiri, terjatuh
dan berdiri lagi, ada yang bersandar pada tiang-tiang listrik, dan ada yang
duduk berjejer bagai pasukan semut yang siap menghadang. Begitu banyak bahaya
yang mengintai. Rasa takut dan bayang-bayang di benakku semakin jauh dan
semakin kuat. Bait-bait doa selalu aku panjatkan. Teman hidup membawaku melaju
kencang. Sekali dua kali, kami berpapasan dengan makhluk yang seperti hendak membuntuti.
Awan gelap berserak di
petala langit. Kelip-kelip bintang yang redup menemani rembulan tanpa sinarnya.
Selimut malam semakin erat memeluk bumi. Membawa dingin angin yang berhembus,
menyemangati lampu-lampu di jalan yang padam. Dan, kutemukan diriku bersama Rifki
terus berjalan di tengah keheningan, menuju ke rumah. Seakan-akan sepi
menggulung malam. Rasanya ini adalah pemandangan paling aneh dan mengerikan
yang pernah terjadi. Sedangkan jarum jam telah bergeser ke angka duabelas. Rifki
mempercepat jalannya, berlomba dengan jarum jam agar segera tiba di rumah.
Hatiku bersenandung lirih,
Andai jarum jam bisa berhenti
Waktu
bergantung pada putarannya
Kan
kuhentikan jarum jam itu
Dan
kan kupilih waktu lain
Untuk
pergi tanpa menerima rintangan ini
Betapa pedih wajahnya,
ketika tetesan hujan berjatuhan. Tetapi, Rifki selalu mencemaskanku dan tidak
memperdulikan wajahnya, serta dingin yang memeluk erat tubuhnya.
“Yang kuat ya Zahra,
sebentar lagi kita akan sampai. Perjalanan ini memang melelahkan. Tetapi yakinlah,
kalau kita tetap kuat dan sabar semua akan menjadi indah”.
Tanganku terasa hangat
ketika berada di genggamannya. Aku merasakan percikan kebahagiaan tersembur
dari tiap tetes-tetes hujan dan juga kalimat yang di lontarkannya dengan indah.
Menjadi sebuah semangat bagiku. Memang benar, mungkin semua orang pernah
mengalami ini, ada keluhan yang dengan sempurna menghiasi setiap celah ketidak
sabaran yang mengarah pada kebinasaan. Tetapi, aku dan Rifki saling menguatkan
dan tidak memberikan kesempatan untuk keluhan di setiap celahnya. Aku menjadi
lupa dengan rasa takut akan kegelapan. Bahkan yang tadinya aku penakut dengan
gelap kini menjadi menikmati dengan nuansa keheningan.
Rifki memintaku untuk
menutup mata, agar rasa takutku berkurang. Setelah aku membuka mata, ternyata
sudah berada di depan rumah. Motor butut ini adalah bukti kedua orangtuaku yang
bekerja keras untuk bisa menguliahkanku. Orangtuaku menyambut dengan hangat. Adikku
berteriak gembira. Betapa cemasnya mereka menungguku. Sungguh tidak dapat aku
bayangkan bagaimana rasa itu menyelimuti hati kedua orangtuaku dan juga adikku?
Begitu pula yang di rasakan keluarga Rifki. Sehingga dia memutuskan untuk
pulang kerumahnya dan menolak tawaran orangtuaku untuk menginap. Kegelisahan dengan
cepat merajam-rajam jiwaku. Aku tak bisa apa-apa. Aku hanya diam. Cahaya
kebahagiaan yang tadi terpancar kini tampak meredup. Bagaimana mungkin dia
kembali untuk menempuh perjalanan, aku bisa rasakan betapa menyengatnya bau
bahaya yang akan terjadi. Tetapi dia tetap memaksa untuk pulang.
Kini senyum simpul dan
kerling matanya yang dapat mengguncangkan hati setiap mata-mata yang
memandangnya, telah memberikan efek kekecewaan padaku. Dia dapat membaca raut
kekecawaan yang telah ditaburkannya lewat tatap mataku yang seakan-akan
berbicara untuk meminta jangan pergi. Jarum jam sudah mengarah ke angka satu.
Tidak ada juga kabar darinya. Telponnya pun mati. Tiba-tiba hatiku berdebar
kencang. Kegelisahanku sudah sampai ke ubun-ubun. Tiba-tiba, dering telpon mengejutkanku.
“
Zahra. Aku sudah sampai di rumah. Bagaimana keadaanmu? Kamu harus segera
mengisi perutmu dan menghangatkan tubuhmu. Jangan sampai kamu sakit.” Rifki
menelpon, suaranya begitu mencemaskanku.
“kamu
ini Rifki! Masih saja mencemaskanku. Tidak perdulikah kamu dengan dirimu
sendiri? Sejak tadi kamu hanya mencemaskan aku. Mulai sekarang jangan pernah
mencemaskan aku lagi! Aku tidak ingin terus bersama dengan perasaan yang tak
pasti ini.” Belum sempat dia bicara, telponnya sudah kumatikan.
Hingga beberapa hari,
kidung kerinduan akan perjumpaan dengan dia menggema di relung-relung hatiku.
Bayangan bahwa diriku akan segera bertemu dengan lelaki yang aku impikan untuk
menjadi pendamping hidup menari-nari di pelupuk mataku. Kobaran api cinta semakin
menyala-nyala di dadaku. Demi angin yang berhembus pelan di pagi ini, demi
mentari yang memberikan sinar hangatnya. Di pagi yang berselimut dingin, saat
mana embun-embun masih menempel di dedaunan, Rifki datang ke rumah untuk mengunjungiku.
“Zahra. Bukan karena
kehendakku bila membuatmu kecewa. Aku tidak bermaksut untuk mempermainkan
perasaanmu. Selama ini aku mempunyai alasan, dan akan kuberitahukan hari ini alasan
itu. Beberapa bulan lagi kita sarjana. Sudah lama aku menunggu waktu itu. Ketika
waktu itu tiba maka akan kunyatakan perasaan cinta yang telah menggerus hatiku sehancur-hancurnya.
Aku ingin cintaku suci dan terjaga, dan secara halal memilikimu. Aku ingin
segera melamarmu sebagaimana rencanaku untuk hidup bersanding dan membangun
surga rumah tangga bersamamu, agar rindu yang sekian lama menyergap di jiwa ini
akan hilang. Dan aku juga ingin kamu tahu. Aku tidak ingin membuatmu terbuai
dengan janji-janji manis, sekiranya janji itu belum terwujud dalam kenyataan.
Aku tidak ingin membuatmu berharap pada janji, sebab harapan dapat memunculkan
luka di hati. Betapa banyak orang berjanji tetapi tidak bisa menepati,
sedangkan leher harapan telah digantungkan. Maka, kecewa menjadi buahnya.
Amarah adalah bijinya. Janji melahirkan kekecewaan. Dan, janji meletupkan
kemarahan. Sekiranya aku membuat janji, maka aku akan berjanji pada Tuhan,
sebab Dialah satu-satunya Dzat yang tak pernah ingkar janji. Semoga engkau
memahamiku.”
“Benarkah
perkataanmu ini Rifki? Kamu hampir saja membuatku takut akan perasaan yang tak
terbalas. Dan aku hampir saja memutuskan untuk mengubur perasaan ini
dalam-dalam.” Air mataku menetes.
“Bukankah
seharusnya kamu dapat melihat dari perbuatanku terhadapmu Zahra?
Aku
tak sanggup bekata-kata lagi. Air mataku terus belinang dan tak mampu kubendung. Rifki mengusap-usap pipiku. Aku begitu puas dengan penjelasan Rifki
padaku. Dan aku menyadari bahwa ada makna yang tersirat, agar aku menengok
waktu sebelumnya.
Ada
masa di mana gelap menyelimuti
Lalu
muncul mentari pagi yang membawa sinarnya
Ada
saat di mana diri mengalami kesulitan
Bersama
kesulitan diri akan mendapat kemudahan
Kemudahan
yang nampak pada wajahnya
Wajah
yang membawa cahaya Tuhan
Pada
diri ini
Ini adalah perjalanan
seabad yang telah aku lewati dengan penuh rintangan bersama teman hidupku.
Perjalanan ini telah mengungkap pertanyaan yang bertahun-tahun bersarang di
benakku. Kemampuan bicara atas nama cinta, tidak selamanya sejalan dengan
tindakan membangun rel kebenaran. Cinta tidak harus diucapkan dengan kata-kata,
namun dengan perbuatan, serta pengorbanan yang berwujud konkret sudah lebih dari
cukup untuk memahami perasaannya.
0 komentar:
Posting Komentar